Perbedaan Mani, Madzi dan Wadi

Ternyata tidak hanya air kencing dan Mani saja yang keluar dari kemaluan, tetapi terdapat juga Madzi dan Wadi. Apa perbedaan dari jenis-jenis cairan tersebut?
Perbedaan Mani, Madzi dan Wadi serta cara bersuci dari masing-masingnya.

Kebanyakan kita yang telah beranjak dewasa mungkin telah mengenal mani.

Tapi, ternyata saat membahas tentang cara bersuci dalam islam, muncul istilah-istilah seperti madzi dan wadi yang asing bagi sebagian orang.

Lalu apa itu madzi dan wadi?

Apa yang membedakan mani, madzi dan wadi?

Bagaimana cara bersuci dari masing-masingnya?

Kita akan mengulas dalam artikel kali ini secara ringkas dan lugas.

Apa itu Mani?

Mani adalah cairan berwarna putih yang keluar memancar dari kemaluan. Secara umum, cairan ini keluar dengan diiringi rasa nikmat dan dibarengi syahwat.

Air mani dapat keluar dalam keadaan sadar seperti karena berhubungan suami-istri ataupun dalam keadaan tidur (biasa dikenal dengan sebutan “mimpi basah”).

Keluarnya mani menyebabkan seseorang harus mandi besar/mandi junub. Hukum air mani adalah suci dan tidak najis (berdasarkan pendapat ulama yang terkuat).

Apabila pakaian seseorang terkena air mani, maka disunnahkan untuk mencuci pakaian tersebut jika air maninya masih dalam keadaan basah.

Adapun apabila air mani telah mengering, maka cukup dengan mengeriknya saja. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah, beliau berkata “Saya pernah mengerik mani yang sudah kering yang menempel pada pakaian Rasulullah dengan kuku saya.” (HR. Muslim)

Baca juga: Doa Setelah Wudhu Berdasarkan Dalil Shahih

Apa itu Madzi?

Madzi adalah air yang keluar dari kemaluan, air ini bening dan lengket. Keluarnya air ini disebabkan syahwat yang muncul ketika seseorang memikirkan atau membayangkan jima’ (hubungan seksual) atau ketika pasangan suami istri bercumbu rayu (biasa diistilahkan dengan foreplay/pemanasan).

Air madzi keluar dengan tidak memancar. Keluarnya air ini tidak menyebabkan seseorang menjadi lemas (tidak seperti keluarnya air mani, yang pada umumnya menyebabkan tubuh lemas) dan terkadang air ini keluar tanpa disadari (tidak terasa).

Air ini dapat terjadi pada laki-laki dan wanita, meskipun pada umumnya lebih banyak terjadi pada wanita.

Sebagaimana air wadi, hukum air ini adalah najis.

Apabila air madzi terkena pada tubuh, maka wajib mencuci tubuh yang terkena air madzi.

Tapi jika madzi terkena pakaian, maka cukup dengan memercikkan air ke bagian pakaian yang terkena air madzi.

Cara bersuci ini sebagaimana sabda Rasulullah terhadap seseorang yang pakaiannya terkena madzi,

يَكْفِيْكَ أَنْ تَأْخُذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَتَنْضَحُ بِهِ ثَوْبَكَ، حَيْثُ تَرَى أَنَّهُ قَدْ أَصَابَ مِنْهُ

“Cukup bagimu dengan mengambil segenggam air, kemudian engkau percikkan bagian pakaian yang terkena air madzi tersebut” (HR. Abu Daud I/358 Nomor 207, Tirmidzi I/76 Nomor 115 dan Ibnu Majah I/169 Nomor 506 dengan sanad hasan).

Keluarnya air madzi ini membatalkan wudhu.

Apabila air madzi keluar dari kemaluan seseorang, maka ia wajib mencuci kemaluannya dan berwudhu apabila hendak sholat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ

“Cucilah kemaluannya, kemudian berwudhulah” (HR. Bukhari Nomor 269 dan Muslim Nomor 303).

Baca juga: 5+ Bacaan Doa untuk Pengantin Baru yang WAJIB Kamu Tahu

Apa itu Wadi?

Wadi adalah air putih kental yang keluar dari kemaluan seseorang setelah kencing. Keluarnya air wadi dapat membatalkan wudhu.

Wadi termasuk benda yang najis.

Cara membersihkan wadi adalah mencuci kemaluan, kemudian berwudhu jika hendak sholat.

Apabila wadi terkena badan, maka cara membersihkannya adalah dengan dicuci.

Demikian yang dapat kami sampaikan dalam pembahasan kali ini. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Terakhir, Allah ﷻ berfirman:

وَٱللَّهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ ٱلْحَقِّ

“Allah tidaklah malu dalam menjelaskan hal yang benar.” (QS. Al Ahzab: 53).

Baca juga: Niat, Doa Mandi Wajib dan Tata Cara Mandi Junub

Allahu a’lam.

Rujukan Artikel

Artikel ini disadur dari tulisan Abu ‘Uzair Boris Tanesia yang terbit di Muslim.or.id dengan judul ‘Mengenal Mani, Wadi, dan Madzi’.

Lihat Sumber