Doa Ziarah Kubur dan Tata Cara Ziarah Sesuai Sunnah

Doa ziarah kubur sesuai sunnah dengan bacaan latin dan artinya serta tata cara ziarah kubur yang benar.

Ziarah kubur termasuk ibadah yang mulia apabila dilakukan sesuai dengan aturan yang benar. Sebab, berziarah ke makam dapat menjadi salah satu aspek untuk mengingat kematian.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“أكثروا ذكر هازم اللذات” يعني : الموت

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian)” (HR. At Tirmidzi Nomor 2307, Ibnu Majah Nomor 4258, An Nasa’i 4/4, Ahmad 2/292,293. Syaikh Salim Al Hilaly hafizhahullah mengatakan: “hadits shahih li ghairihi”).

Kegiatan berziarah ke kuburan seorang muslim juga disyariatkan oleh agama Islam. Dalam sebuah hadist shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها

“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah” (HR. Muslim Nomor 977).

Berdasarkan penjelasan hadist di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang ziarah kubur karena keimanan belum kuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir para pengikutnya melakukan aktivitas-aktivitas yang dilarang seperti memberikan sesajen, berdoa kepada kubur, mempercayai takhayul dan semisalnya.

Baca juga: Bidadara untuk Wanita Penghuni Surga? Ini Penjelasan Lengkapnya

Doa Ziarah Kubur Berdasarkan Sunnah

Setelah kita memahami tentang makna dibalik ziarah dan hukumnya, fokus pembahasan utama di artikel ini yaitu doa ziarah kubur berdasarkan dalil yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1. Doa pertama

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Bacaan latin: ASSALAAMU’ALAIKUM AHLAD DIYAARI MINAL MU’MINIINA WAL MUSLIMIIN. WA YARHAMULLOHUL MUSTAQDIMIINA MINNAA WAL MUSTA’KHIRIIN. WA INNAA INSYAA ALLOHU BIKUM LALAAHIQUUN. WA AS-ALULLOHA LANAA WA LAKUM ‘AAFIYAH.

Artunya: “Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian. Saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim Nomor 975, Ahmad Nomor 25855 dan Ibnu Hibban Nomor 7110)

Doa ziarah kubur yang pertama ini berisi permohonan keselamatan dan ampunan kepada Allah Ta’ala bagi orang-orang muslim dan mukmin yang telah meninggal. Terlebih lagi, redaksi doa ziarah tersebut juga berisi pengakuan bahwa kita (orang yang berziarah) akan mati seperti mereka.

2. Doa kedua

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

Bacaan latin: ASSALAAMU’ALAIKUM DAARO QOUMIN MU’MINIIN. WA INNAA INSYA-ALLOHU BIKUM LAAHIQUUN.

Artinya: “Keselamatan untuk kalian, wahai penghuni rumah kaum mukminin. Kami insya Allah akan menyusul kalian.” (HR. Muslim Nomor 249)

Selain doa ziarah kubur yang pertama, kita juga diperkenankan membaca doa ini. Bacaan doa yang kedua lebih ringkas. Namun, mengandung makna yang serupa dan sama-sama berdasarkan hadist shahih.

Baca juga: 15+ Kumpulan Doa-doa Mustajab dalam Al-Qur’an Lengkap

Larangan Membaca Al-Qur’an di Kuburan

Ketika sedang melakukan ziarah kubur, kita mungkin menemui beberapa orang yang membaca ayat-ayat al-qur’an kepada mayit.

Tapi ternyata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyuruh umat islam untuk membaca qur’an ketika berziarah. Bahkan, amalan kebaikan seseorang akan terputus saat mati.

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal: 1. sedekah jariyah, 2. ilmu yang diambil manfaatnya atau 3. anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim Nomor 1631)

Imam an-Nawawi rahimahullah ,salah satu ulama madzhab Syafiiyah, menjelaskan hadis ini dalam kitab Syarah Shahih Muslim 11/85 dengan mengatakan:

وَفِيهِ أَنَّ الدُّعَاء يَصِل ثَوَابه إِلَى الْمَيِّت , وَكَذَلِكَ الصَّدَقَة ….وَأَمَّا قِرَاءَة الْقُرْآن وَجَعْل ثَوَابهَا لِلْمَيِّتِ وَالصَّلاة عَنْهُ وَنَحْوهمَا فَمَذْهَب الشَّافِعِيّ وَالْجُمْهُور أَنَّهَا لا تَلْحَق الْمَيِّت

Artinya: “Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa doa akan sampai pahalanya kepada mayit, demikian pula sedekah… Sedangkan bacaan al-Quran, kemudian pahalanya dihadiahkan untuk mayit, atau shalat atas nama mayit, atau amal ibadah lainnya, maka menurut madzhab Imam as-Syafii dan mayoritas ulama, amalan ini tidak bisa diberikan kepada mayit.”

Pada hadist lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اجْعَلُوا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِى بُيُوتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

Artinya: “Jadikanlah shalat kalian di rumah kalian dan jangan jadikan rumah tersebut seperti kubur” (HR. Bukhari no. 432 dan Muslim no. 777).

Dalil di atas menunjukkan bahwa kubur bukanlah tempat shalat atau membaca Al Qur’an. Kedua amalan yang disebutkan dalam hadits tersebut merupakan amalan khusus di masjid dan di rumah.

Perbuatan yang harus kita lakukan saat ziarah kubur adalah memberi salam kepada penghuninya dan mendoakan kebaikan bagi mereka dengan doa ziarah kubur sesuai sunnah.

Terlebih lagi, kita dapat bersedekah atas nama mayit atau mendoakannya sebagaimana penjelasan imam Nawawi.

Baca juga: 10 Sedekah dengan Pahala Luar Biasa yang WAJIB Kamu Pahami

Tata Cara dan Adab Ziarah Kubur

Islam merupakan agama yang sempurna. Kesempurnaan Islam tercantum dalam mekanisme setiap perbuatan seorang hamba. Dari mulai bangun tidur, agama ini menjelaskan adab-adab bangun tidur, hingga seseorang kembali beranjak ke tidur lagi.

Berikut ini penjelasan ringkas tata cara dan adab-adab ziarah kubur yang perlu kita pahami yaitu:

1. Tujuan ziarah adalah mengingat kematian

Adab pertama dalam berziarah adalah untuk mengingat kematian. Apabila ingin mendoakan bagi mayit, kita dapat melakukannya tanpa harus menunggu ziarah.

Kita juga dilarang untuk berdoa kepada mayit atau meminta pertolongan kepada mereka. Sebab, orang-orang yang telah meninggal tidak dapat memberikan kebaikan atau menimpakan keburukan.

2. Tidak boleh safar untuk berziarah kubur

Ziarah kubur merupakan bentuk ibadah khusus. Maka, kita dilarang untuk bepergian dengan tujuan ziarah karena hadist berikut:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ، الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Artinya: “Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid: Masjid Haram, Masjid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (Masjid Nabawi), dan Masjid Aqsha” (HR. Bukhari Nomor 1189 dan Muslim Nomor 3364)

3. Membaca doa ziarah kubur

Doa ini bertujuan untuk memohonkan keselamatan dan ampunan kepada mayit, serta mengingatkan kita bahwa suatu saat nanti akan menghadapi kematian.

Bacaan doa ziarah kubur dapat dilihat pada pembahasan di atas.

4. Melepas sandal ketika masuk area kuburan

Tatkala menjalankan kegiatan nyekar atau ziarah, kita diharuskan melepas sandal atau alas kaki saat memasuki kawasan pemakaman.

Adab ziarah kubur in berdasarkan hadits dari sahabat Basyir bin Khashashiyah radhiyallahu ‘anhu yang bercerita: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan, tiba-tiba beliau melihat seseorang sedang berjalan diantara kuburan dengan memakai sandal. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ، وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ. فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا

Artinya: ‘Wahai pemakai sandal, celakalah engkau! Lepaskan sandalmu!’ Lalu orang tersebut melihat (orang yang meneriakinya). Tatkala ia mengenali (kalau orang itu adalah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang itu melepas kedua sandalnya dan melemparnya” (HR. Abu Dawud 2/72, An Nasa’i 1/288, Ibnu Majah 1/474, Ahmad 5/83, dan selainnya. Al Hakim berkata : “Sanadnya shahih”.)

5. Dilarang duduk di atas kuburan atau menginjaknya

Salah satu keindahan dalam ajaran agama Islam yaitu menghargai dan menghormati saudara seiman. Bentuk menghormati kaum muslim lain juga tercermin dari larangan menduduki kuburan atau menginjak makam saat ziarah kubur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ، فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

Artinya: “Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur” (HR. Muslim Nomor 971)

6. Larangan berdoa menghadap kuburan

Berdoa bagi mayit merupakan salah satu faedah tatkala ziarah kubur. Namun, saat sedang berdoa kita dilarang untuk menghadap kuburan. Cara yang tepat untuk berdoa adalah menghadap kiblat jika memungkinkan.

لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ، وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا

Artinya: “Jangan duduk di atas kubur dan jangan pula shalat menghadapnya” (HR. Muslim Nomor 972)

7. Boleh menangis, tapi dilarang meratapi mayit saat ziarah kubur

Merasa bersedih atas kepergian orang-orang terdekat merupakan naluri dan sifat manusiawi. Kesedihan yang kita rasakan seringkali mengeluarkan air mata.

Tapi, kita dilarang untuk meratapi kesedihan secara berlebihan. Sebab, sikap meratapi kematian dapat berakibat penolakan terhadap takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ، أَوْ شَقَّ الْجُيُوبَ، أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

Artinya: “Bukan dari golongan kami siapa yang menampar-nampar pipi, merobek-robek kerah baju, dan menyeru dengan seruan jahiliyyah (meratap).” (HR. Bukhari Nomor 1294 dan Muslim Nomor 103)

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga menjelaskan:

أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ . وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

Artinya: “Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1) membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) mencela keturunan, (3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) meratapi mayit (niyahah)”. Lalu beliau bersabda, “Orang yang melakukan niyahah (meratapi mayit) bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal” (HR. Muslim Nomor 934)

Berdasarkan kedua hadits shahih di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa meratapi musibah atau kematian saat ziarah kubur termasuk perbuatan tercela.

Daripada meratapi takdir yang tidak mungkin dibatalkan yaitu kematian, lebih baik kita membaca doa ziarah kubur untuk mereka.

Baca juga: Keutamaan dan Anjuran Membaca Ayat Kursi

Pada pembahasan artikel ini, kita telah mengulas doa-doa ziarah kubur dan tata cara berziarah yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan dalil shahih.

Selain doa ini, kita juga perlu mengamalkan doa-doa dan dzikir lain yang mudah untuk dilakukan tapi berpahala besar.

Beberapa doa dan dzikir sehari-hari yang berpahala besar yaitu:

Allahu a’lam.