Apakah Wanita Surga Memperoleh Bidadara?

Jika laki-laki memperoleh bidadari, apakah mungkin wanita mendapatkan bidadara saat masuk surga?
Apakah seorang mulimah atau wanita surga memperoleh bidadara?

Telah banyak dalil dari ayat-ayat al-qur’an dan hadits shahih terkait kenikmatan yang diperoleh para laki-laki yang masuk surga, termasuk bidadari yang cantik dan jelita yang kecantikannya tidak mungkin kita bayangkan. Lalu apa yang diperoleh wanita surga?

Pembahasan kali ini akan mengulas kebaikan-kebaikan yang akan diperoleh para muslimah ketika masuk surga.

Wanita surga akan mendapat bidadara dari kalangan lelaki mukmin

Apabila para perempuan yang beriman dan beramal saleh, maka mereka juga akan mendapatkan kenikmatan berupa bidadara. Fenomena ini ditunjukan oleh keumuman ayat-ayat yang menegaskan penduduk surga akan menerima segala hal yang mereka ingin dan hasratkan.

Allah ﷻ berfirman:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ كَذَلِكَ يَجْزِي اللَّهُ الْمُتَّقِينَ

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala hal yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah ﷻ memberikan balasan kebaikan kepada orang-orang yang bertakwa” (QS An-Nahl : 31).

لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ خَالِدِينَ كَانَ عَلَى رَبِّكَ وَعْدًا مَسْئُولا

“Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki, sedang mereka kekal (di dalamnya). (Hal itu) adalah janji dari Tuhanmu yang patut dimohonkan (kepada-Nya)” (QS Al-Furqoon : 16).

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ

“Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik” (QS Az-Zumar : 34).

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya” (QS Qoof : 35).

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta” (QS Fushshilat : 31).

Salah satu perkara yang dihasratkan oleh manusia adalah kenikmatan berjimak atau berhubungan badan.

Surga tidak hanya diciptakan dan kenikmatan-kenimakatan di dalamnya bukan sekedar disediakan oleh Allah ﷻ hanya untuk para lelaki.

Tapi Allah ﷻ menyiapkan surga dan segala isinya untuk seluruh orang-orang yang bertakwa dan beramal saleh dari kalangan pria atau wanita.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ

“Dan barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, laki-laki maupun wanita, dan ia (termasuk) orang yang beriman, maka mereka itu (akan) masuk ke dalam surga” (QS An-Nisaa : 124).

وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh, laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab” (QS Ghoofir : 40).

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah menegaskan bahwa bidadara berasal dari kalangan lelaki dunia yang beriman dan masuk surga.

Tentu saja seorang lelaki yang masuk surga akan dimodifikasi tubuh dan parasnya oleh Allah ﷻ menjadi tampan dan elok selayaknya bidadara yang kita tidak dapat membayangkan keindahannya.

Kenapa tidak pernah disebutkan tentang bidadara dalam dalil-dalil shahih?

Para ulama telah menjelaskan alasan kenapa bidadara tidak pernah disebutkan, diantaranya yaitu:

  1. Perempuan, pada asalnya yang dicari dan dikejar-kejar oleh lelaki, dan bukan sebaliknya. Sehingga kurang etis jika muncul kesan para wanita mengejar-ngejar bidadara,
  2. Dalil-dalil menyebutkan tentang keindahan tubuh para bidadari dengan cukup detail. Kondisi ini tentu kurang sesuai apabila disebutkan keindahan tubuh para bidadara dihadapan para muslimah. Sebab, wanita-wanita cenderung memiliki sifat malu yang sangat tinggi.
  3. Kenikmatan surgawi bukan hanya terkait jimak (hubungan badan) saja, melainkan bervariasi dan sangatlah banyak. Lalu, para wanita juga lebih condong untuk menikmati aspek-aspek lain seperti perhiasan dan keindahan suatu barang tertentu.

Wanita surga lebih mulia dibanding bidadari

Para ulama menyebutkan bahwa para wanita dunia yang beriman dan beramal saleh hingga masuk surga, maka mereka itu lebih mulia dan cantik daripada bidadari-bidadari surga.

Hal ini sebagai bentuk ganjaran bagi para wanita dunia yang telah menjalankan kewajiban-kewajiban yang Allah ﷻ syariatkan. Mereka menjalankan perintah Allah ﷻ dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesabaran tatkala di dunia.

Berbeda dengan bidadari surga yang Allah ﷻ langsung ciptakan dalam bentuk dewasa dan tanpa pembebanan tugas atau syariat.

Ada beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukan terkait situasi tersebut, tetapi hadits-hadits itu lemah.

Misal, hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiallahu ‘anhaa bahwasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

بَلْ نِسَاءُ الدُّنْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ

“Bahkan wanita dunia lebih afdol (baik) dari pada para bidadari” (HR At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir Nomor 780. Hadits ini dilemahkan oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaaid 7/255 dan juga Syaikh Al-Albani dalam Dho’if Nomor 2230).

Allah ﷻ akan memperindah wajah, paras dan tubuh wanita-wanita surga

Allah ﷻ akan mempercantik wajah-wajah wanita surga dengan seindah-indahnya.

Hadits-hadits shahih telah menjelakanaskan bahwasanya tubuh para penghuni surga dimodifikasi oleh Allah ﷻ sehingga menjadi lebih besar, lebih tampan dan cantik jelita (Lihat penjelasan tentang jasad tatkala kebangkitan merupakan modifikasi dari jasad yang ada di dunia di Majmuu Fataawa Ibni Taimiyyah 17/252 dan Syarh al-‘Aqidah at-Thohawiyah li Ibni Abi al-‘Iz al-Hanafi hal 277).

Tubuh dan rupa para penghuni surga menjadi muda dan besar serta tingginya 60 hasta, selain itu juga tubuh mereka bersih tanpa kotoran dan cela.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ آدَمَ

“Semua yang masuk surga seperti bentuknya Nabi Adam” (HR Al-Bukhari Nomor 3326).

Dalam hadits yang lain, disebutkan lebih rinci tentang ciri-ciri fisik penduduk surga yaitu:

إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً لاَ يَبُوْلُوْنَ وَلاَ يَتَغَوَّطُوْنَ وَلاَ يَتْفُلُوْنَ وَلاَ يَمْتَخِطُوْنَ … وَأَزْوَاجُهُمْ الْحُوْرُ الْعِيْنُ عَلَى خُلُقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلَى صُوْرَةِ أَبِيْهِمْ آدَمَ سِتُّوْنَ ذِرَاعًا فِي السَّمَاءِ

“Sesungguhnya rombangan pertama yang masuk surga seperti rembulan yang bersinar di malam purnama, kemudian rombongan berikutnya seperti bintang yang paling terang di langit, mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak meludah, tidak beringus….istri-istri mereka adalah para bidadari, mereka semua dalam satu perangai, rupa mereka semua seperti rupa ayah mereka Nabi Adam, yang tingginya 60 hasta menjulang ke langit” (HR Al-Bukhari Nomor 3327).

Penduduk surga tidak punya rasa cemburu, iri, dengki dan sifat-sifat buruk lainnya

Meskipun dalam surga seorang lelaki bisa saja memiliki banyak bidadari, bahkan bisa jadi memiliki banyak istri yang dahulunya adalah istri-istrinya di dunia, tapi para wanita surga sama sekali tidak akan ada dalam hati-hati mereka rasa dengki dan cemburu.

Allah ﷻ berfirman:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الأنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menunjuki kami (penduduk surga) kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah ﷻ tidak memberi kami (penduduk surga) petunjuk. Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan kami (penduduk surga), membawa kebenaran.’ dan diserukan kepada mereka: ‘ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.’ (QS Al-A’roof : 43).

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan” (QS al-Hijr : 47).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ يُرَى مُخُ سَاقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ مِنَ الْحَسَنِ لاَ اخْتِلاَفَ بَيْنَهُمْ وَلاَ تَبَاغُضَ قُلُوْبُهُمْ قَلْبٌ وَاحِدٌ يُسَبِّحُوْنَ اللهَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا

“Bagi setiap penghuni surga dua orang istri, terlihat sumsum betisnya dari balik dagingnya saking indahnya, tidak ada perselisihan diantara mereka serta tidak ada permusuhan. Hati-hati mereka hati yang satu, mereka bertasbih kepada Allah ﷻ tatkala pagi dan petang” (HR Muslim Nomor 2834)

Telah jelas bahwa kondisi yang berlaku di dunia berbeda dengan yang berlaku di akhirat. Sebab Allah ﷻ telah mencabut keburukan dari hati-hati para laki-laki dan wanita surga.

Ketika poligami di dunia menimbulkan kesedihan, kecemburuan serta permusuhan, maka situasi itu tidak akan terjadi di surga kelak.

Seseorang yang masuk surga tidak akan pernah sedih dan khawatir.

Kondisi-kondisi wanita surga

Seorang muslimah tidak keluar dari salah satu dari kondisi-kondisi berikut ini:

1. Ia meninggal sebelum menikah

Perempuan ini akan dinikahkan dengan lelaki dunia yang masuk surga yang menyenangkan hatinya, sesuai dengan kehendak Allah ﷻ (lihat Majmu Fatawa Syaikh al-‘Utsaimin 2/53).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

“Tidak ada seorang yang membujang pun di surga” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah Nomor 1736 dan 2006)

2. Ia meninggal setelah bercerai dan belum sempat menikah lagi

Wanita surga ini sama dengan kondisi dan situasi muslimah yang pertama.

3. Ia meninggal dalam keadaan bersuami, tetapi suaminya tidak masuk surga

Kondisi yang dialami oleh wanita ini juga sama dengan kondisi perempuan yang pertama dan kedua.

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Seorang wanita jika masuk surga dan belum menikah atau suaminya tidak masuk surga, maka jika wanita ini masuk surga akan ada para lelaki dunia yang masuk surga dan belum menikah juga. Bagi para lelaki tersebut para istri dari bidadari dan wanita dunia. Jika para lelaki tersebut berminat” (Majmu’ Fatawa Syaikh al-‘Utsaimin 2/52).

Poin pentingnya adalah para wanita surga pasti bersuami.

4. Ia meninggal setelah menikah dengan suaminya

Muslimah tersebut akan menjadi istri dari suaminya di dunia.

Tentu saja, sang suami yang masuk surga telah Allah ﷻ rubah paras dan sifatnya menjadi lebih baik dan layaknya bidadara.

5. Suaminya lebih dahulu meninggal dan wanita itu tidak menikah lagi sampai wafat juga

Perempuan tersebut juga kondisinya sama dengan wanita yang keempat, ia akan menjadi istri dari suaminya tersebut.

6. Setelah suaminya meninggal, ia menikah lagi dengan lelaki lain

Muslimah tersebut akan menjadi menjadi istri dari suaminya yang terakhir. Berapa pun mantan suaminya, ia tetap menjadi istri dari suami yang terakhir jika masuk surga.

Ketika Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu melamar Ummu Dardaa’, maka ia menolak lamaran Mu’awiyah dan berkata, “Aku mendengar Abu Darda’ (suaminya yang telah meninggal-pen) berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا

‘Seorang wanita bagi suaminya yang terakhir’.

Dan aku tidak ingin pengganti bagi Abu Dardaa’” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 1281)

Hudzaifah radhiallahu ‘anhu juga pernah berkata kepada istrinya:

إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تَزَوَّجِي بَعْدِي فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجَهُ فِي الْجَنَّةِ

“Jika kamu ingin menjadi istriku di surga, maka janganlah engkau menikah lagi setelah aku meninggal. Sebab seorang wanita di surga akan menjadi istri bagi suaminya yang terakhir di dunia. Karenanya Allah ﷻ mengharamkan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikah lagi setelah Nabi meninggal supaya mereka tetap istri-istri Nabi juga di surga kelak” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah Nomor 1281).

Wanita yang membangkang dan menyakiti hati suami akan diprotes oleh bidadari surga

Tatkala seorang wanita dunia bermaksiat dan membangkang kepada suaminya, tentu ia akan kalah bersaing dengan para bidadari surga dan menyebabkannya terjerumus dalam neraka jahannam.

Bahkan saat seorang wanita dunia menyakiti hati suaminya, para bidadari surga akan protes dengan perlakuannya sebagaimana termaktub dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا ؛ إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ : لاَ تُؤْذِيْهِ قَاتَلَكِ اللهُ ؛ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

“Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia kecuali istrinya di akhirat dari bidadari akan berkata, ‘Janganlah engkau mengganggunya, semoga Allah ﷻ membinasakanmu. Sesungguhnya ia hanyalah tamu di sisimu, hampir-hampir (sebentar lagi) ia akan meninggalkanmu menuju kami (para bidadari)’” (HR At-Thirmidzi dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah Nomor 173).

Rujukan Artikel

Artikel ini disunting dari tulisan Dr. Firanda Andirja, MA yang terbit di Firanda.com dengan judul ‘Laki-laki Dapat Bidadari di Surga, Wanita Dapat Siapa?’

Lihat Sumber